LAPORAN AKSI NYATA MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF
oleh: Eli Latipah_CGP Kabupaten Garut
I. Latar Belakang
Kerinduan
akan pembelajaran tatap muka dirasakan oleh semua pihak, guru, siswa, orang tua,
dan para pemangku kepentingan lainnya. Tak dapat dipungkiri pembelajaran tatap
muka lebih memiliki banyak keunggulan dibanding pembelajaran jarak jauh yang
sekarang sedang dilaksanakan. Perubahan perilaku yang diharapkan muncul dari
siswa lebih mudah tercapai baik dari segi sikap, pengetahuan, maupun
keterampilan. Meskipun pembelajaran saat pandemic covid 19 diupayakan secara maksimal akan tetapi tetap saja
kendalanya lebih banyak menyebabkan pencapaian hasil belajar kurang optimal.
Berbeda dengan pembelajaran tatap muka, pengkuran
hasil belajar saat pandemi covid 19
lebih menguras tenaga dan pikiran baik untuk guru maupun siswa serta
keterlibatan orang tua dalam pengawasan anaknya. Selain penyajian lembar soal
yang harus benar-benar mudah dipahami siswa, para guru harus menyiasati agar
semua siswa secara sadar bisa terlibat dalam penilaian tersebut. Rasa jenuh
akibat pembelajaran jarak jauh sering dikeluhkan siswa dan orang tua,
ketidakpahaman akan materi pelajaran sering menjadi permasalahan antara orangtua
dan siswa. Apalagi dengan latar belakang pendidikan orang tua yang sebagian
besar hanya lulusan sekolah dasar dan tidak tersedianya alat komunikasi yang
memadai untuk pembelajaran.
Selain penilaian
pengetahuan dan keterampilan, penilaian sikap pun perlu disiasti agar siswa
memiliki rasa tanggung jawab penuh di dalam penyelenggaraan pembelajaran jarak
jauh. Nilai-nilai positif siswa perlu ditanamkan secara kontinu untuk
menumbuhkan budaya positif sekolah yang akhirnya menjadi karakter dari seluruh
siswa. Untuk menumbuhkan nilai-nilai positif tersebut tidak serta merta menilai
keseluruhan siswa di sekolah tetapi perlu perangsangan penumbuhan yang dimulai
dari setiap individu di setiap kelas. Kesepakatan kelas menjadi salah satu hal
yang sangat penting yang dapat merangsang siswa untuk menunjukkan nilai
positifnya dan menjadi sebuah komitmen yang harus ditaati bersama dan
dilaksanakan secara konsisten.
Dari latar belakang di
atas, penulis mencoba untuk melakukan aksi nyata Calon Guru Penggerak modul 1.4
tentang budaya positif dengan menyajikan laporaan hasil aksi nyata yang
berjudul ”Kesepakatan Kelas Sebagai Upaya Penumbuhan Budaya Positif Sekolah”.
Semoga dapat bermanfaat bagi para pendidik lainnya dalam menumbuhkan
nilai-nilai positif siswa di sekolah.
II.
Deskripsi Aksi Nyata
Di dalam pelaksanaan aksi
nyata, penulis mencoba melakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui
keinginan dan harapan dari siswa terkait pelaksanaan pembelajaran di masa
pandemic covid 19 dan situasi kelas yang mereka inginkan. Survei
dilakukan dengan membagikan lembar kuesioner yang berisi pertanyaan uraian
dengan tujuan agar siswa lebih bebas mencurahkan segala keinginan dan
harapannya. Dari hasil survei tersebut diperoleh gambaran sebagai berikut:
1. Sistem
pembelajaran masa covid 19 tidak
disenangi siswa karena tidak bisa bebas bermain dan belajar bersama teman.
2. Pembelajaran
yang mereka harapkan kembali ke tatap muka, berdiskusi, dan praktik di luar
kelas dengan bimbingan guru.
3.
Mata
pelajaran yang tidak disukai adalah matematika, bahasa sunda, dan bahasa
inggris.
4.
Kegiatan
sekolah yang disukai adalah praktik olah raga, piket kelas, dan praktik shalat
dhuha.
5.
Kelas
yang disukai adalah kelas yang nyaman, bersih, dan ramai.
6.
Tidak
menyukai teman yang suka jahil dan mengejek.
Dari hasil survei
tersebut, penulis mencoba untuk mengajukan kesepakatan kelas dengan mengajak
diskusi siswa. Mereka sangat antusias menyampaikan pendapat dan keinginannya
tentang pembelajaran dan kelas yang mereka inginkan. Kesepakatan kelas tersebut
dipajang di depan kelas agar semua warga dapat melihat dengan jelas untuk
dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Berikut hasil kesepakatan kelas yang
disepakati bersama:
1. Guru dan murid yang saling menyayangi.
2.
Aktif
dan semangat belajar
3.
Mengerjakan
tugas dengan penuh tanggung jawab.
4.
Saling
membantu teman yang kesulitan.
5.
Disiplin
menjaga kebersihan
6.
Mematuhi
3 M.
III.
Hasil Aksi Nyata
Pelaksanaan kesepakatan
kelas pada pembelajaran jarak jauh diawali dengan kepatuhan siswa di dalam
melaksanakan pembelajaran dan pengerjaan tugas-tugas. Mereka berdiskusi dan
saling membantu untuk menyelesaikan tugas dan materi pembelajaran yang belum
dipahami. Adapun materi pembelajaran yang tidak dipahami bersama mereka akan
menanyakan langsung kepada guru melalui tatap muka ketika pengambilan tugas di
sekolah, komunikasi lewat whatsapp grup,
ataupun ketika kunjungan guru ke tempat kelompok belajar di lingkungan rumah.
Pelaporan tugas melalui whatsapp grup
pun mereka saling membantu. Siswa yang
memiliki handphone membantu
mengirimkan tugas dari siswa yang tidak memiliki handphone.
Kepatuhan dalam
kebersihan kelas dan sekolah dilaksanakan ketika siswa mengambil dan
menyerahkan tugas. Mereka selalu menjaga kebersihakn kelas dengan menyapu dan
mengepel lantai kelas serta merapikannya. Membuang sampah ke tempatnya ketika
siswa menemukan sampah baik di kelas ataupun lingkungan sekolah. Memelihara
kebersihan pun tidak hanya dilaksanakan di lingkungan sekolah, siswa
membiasakan diri membersihkan lingkungan rumah dan membantu pekerjaan orang
tua. Hal ini tentu saja memberikan nilai positif dalam kemajuan penanaman
budaya positif sekolah.
Mematuhi 3 M yaitu
mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan menjaga jarak selalu diupayakan
untuk dipatuhi baik di sekolah ataupun dalam pergaulan mereka di lingkungan
rumah. Pengawasan pelaksanaan dilakukan bekerjasama dengan siswa lain, orang
tua, dan guru. Alhamdulillaah saat ini pelaksanaan kesepakatan kelas sudah
berjalan sesuai aturan yang telah disepakati. Siswa yang melanggar kesepakatan
kelas diingatkan untuk tetap mentaati dan melaksanakan aturan secara konsisten.
Kalupun siswa tersebut tetap melanggar kesepakatan kelas maka akan diajak berdiskusi
untuk membuat pilihan dan konsekunsi
sendiri yang selaras dengan aturan yang telah disepakati bersama.
IV.
Pembelajaran yang Diperoleh dari
Hasil Aksi Nyata
Setelah kesepakatan
kelas dilaksanakan, penulis dapat memperoleh pembelajaran sebagai berikut:
1. Kesepakatan
kelas sangat diperlukan untuk membantu siswa memahami apa yang harus mereka
lakukan untuk mewujudkan harapan dan keinginan mereka;
2. Aturan
yang dibuat bersama akan dilakasnakan secara sadar dan bertanggung jawab;
3. Penanaman
nilai positif di sekolah lebih mudah ditanamkan kepada siswa untuk mewujudkan
budaya positif sekolah.
4. Pengawasan
pelaksanaan kesepakatan kelas belum bisa dilaksanakan secara optimal terkait
pembelajaran masa pandemi covid 19.
5. Teladan
merupakan contoh nyata yang akan ditiru siswa dalam pelaksanaan kesepakatan
kelas.
V.
Rencana Perbaikan Aksi Nyata
Dari pelaksanaan
kesepakatan kelas yang sudah dilakukan, penulis merasakan harus ada perbaikan
untuk mewujudkan budaya positif sekolah yang dapat dilaksanakan secara
konsisten. Adapun perbaikan direncanakan sebagai berikut:
1. Survei
awal yang dilakukan memuat pertanyaan yang lebih variatif sehingga dapat lebih
banyak memunculkan ide-ide kreatif dari siswa;
2. Diskusi
bersama teman sejawat terkait ide dan pemikiran aturan kesepakatan kelas;
3. Melakukan
pengawasan lebih optimal dengan memberdayakan perwakilan orang tua, teman
sejawat, dan siswa;
4. Membuat
daftar ceklis pelaporan pelaksanaan kesepakatan kelas.
VI. Dokumentasi Proses dan Hasil Pelaksanaan Aksi Nyata
1. Foto lembar survei
2. Foto pengisian lembar survei dan diskusi kesepakatan kelas
3. Foto kesepakatan kelas
4. Foto pelaksanaan kesepakatan kelas
Reviewed by BlogSD
on
Februari 01, 2021
Rating:







Tidak ada komentar: